Pentingnya Pendidikan Moral Di Era Globalisasi
Globalisasi memiliki sisi positif dan negatif terhadap
pendidikan moral. Disatu sisi, arus globalisasi merupakan harapan yang akan
memberikan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun disisi lain, era
globalisasi juga memberikan dampak yang sangat merugikan. Dengan perkembangan
sektor teknologi dan informasi, manusia tidak lagi harus menunggu waktu, untuk
bisa mengakses berbagai informasi dari seluruh belahan dunia, bahkan yang
paling pelosok sekalipun. Kondisi ini menjadikan tidak adanya sekat serta batas
yang mampu untuk menghalangi proses transformasi kebudayaan. John Neisbitt,
menyebutkan kondisi seperti ini sebagai “gaya hidup global”, yang ditandai
dengan berbaurnya budaya antar bangsa, seperti terbangunnya tatacara hidup yang
hampir sama, kegemaran yang sama, serta kecenderungan yang sama pula, baik
dalam hal makanan, pakaian, hiburan dan setiap aspek kehidupan manusia lainnya.
Kenyataan semacam ini, akan membawa implikasi pada hilangnya kepribadian asli,
serta terpoles oleh budaya yang cenderung lebih berkuasa. Dalam konteks ini,
kebudayaan barat yang telah melangkah jauh dalam bidang industri serta
teknologi informasi, menjadi satu-satunya pilihan, sebagai standar modernisasi,
yang akan diikuti dan dijadikan kiblat oleh setiap individu. Globalisasi
menyebabkan perubahan sosial yang memunculkan nilai-nilai yang bersifat
pragmatis, materialistis dan individualistik.
Tidak terkecuali, bagi masyarakat Indonesia yang telah
memiliki budaya lokal, terpaksa harus menjadikan budaya barat sebagai ukuran
gaya hidupnya, untuk bisa disebut sebagai masyarakat modern. Disamping itu,
sebagai bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim, yang telah memiliki acuan
suci, yakni Al-Qurán dan tauladan Nabi Muhammad SAW, masyarakat Indonesia juga
telah menggantikan budaya Islam yang telah mampu mengangkat martabat serta
derajat masyarakat jahiliyah Arab dengan budaya barat, yang merupakan produk
revolusi industri, yang telah menjatuhkan martabat manusia. Dengan kebebasan
individu dalam faham barat, telah menjadikan masyarakat muslim melepaskan
kontrolnya dari kepercayaan moralitas serta spiritualitas (agama).
Berbagai perilaku destruktif, seperti alkoholisme, seks
bebas, aborsi sebagai penyakit sosial yang harus diperangi secara bersama-sama.
Sehingga kenyataan ini menjadikan banyak orang yang tidak lagi mempercayai
kemampuan pemerintah, untuk menurunkan angka kriminalitas serta berbagai
penyakit sosial lainnya.
Dari gambaran diatas, terlepas dari mana yang paling
signifikan, namun kenyatan tersebut, telah menjadikan pendidikan moral serta
agama sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi penyakit serta krisis sosial
yang ada ditengah masyarakat.
Dalam kontek Negara Kesatuan Republik Indonesia, runtuhnya
nilai moralitas serta norma agama dikalangan masyarakat dan para pemimpin
bangsa, sebenarnya sangat pantas untuk kita kemukakan kepermukaan, dalam upaya
menemukan solusi bagi penyelesaian krisis multidimensional yang ada. Karena
ketidak mampuan bangsa ini bangkit dari keterpurukan, lebih diakibatkan oleh kurangnya
kebersamaan serta rasa saling menang dan meraih keuntungan sendiri, diantara
setiap elemen bangsa. Kesadaran dari masing-masing individu serta kelompok akan
kemaslahatan bersama-lah, yang akan menjadi solusi paling tepat bagi upaya
penyembuhan penyakit sosial yang ada. Dengan demikian, pendidikan moral dan
agama, menjadi sangat mutlak bagi terbangunnya tata kehidupan masyarakat yang
damai, adil makmur dan bermartabat. Terlebih lagi, dalam konteks kehidupan
global yang semakin transparan dan penuh kompetisi, nilai agama dan moralitas
merupakan benteng agar setiap individu tidak terjerumus dalam prakti
kesewenag-wenangan dan ketidak adilan.
Saat ini, di Indonesia, Pemerintah yang menggulirkan program
revolusi mental, akan terkait sangat erat dengan aktivitas pendidikan. Melihat
berbagai sudut kehidupan yang sangat buruk, seperti korupsi, tidak ada
toleransi, dan lain-lain, maka pendidikan moral sangat penting untuk
diterapkan. Bukan hanya berhenti di sekolah saja, namun pendidikan moral
hendaknya menjadi sebuah gaya hidup dengan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Miris lagi adalah ketika kebobrokan
moral itu terjadi justru di dalam bidang pendidikan.
Contoh sederhana di sekolah adalah, tuntutan yang begitu
besar untuk mendapatkan nilai yang tinggi, membuat siswa baik atas inisiatif sendiri
maupun dari guru, mencoba mendapatkan nilai maksimal dengan segala cara.
Mencontek, bekerjasama dalam mengerjakan soal, seperti suatu hal yang lumrah
terjadi di sekolah. Ini diperparah dengan masyarakat kita yang begitu
mendewakan hasil nilai akhir dari pada kejujuran dari siswa itu sendiri.
Masyarakat tidak pernah membanggaka siswa yang berlaku jujur dalam mengerjakan
ujian, namun mereka justru membanggakan nilai besar yang diperoleh siswa dengan
menghalalkan segala cara.
Pendidikan moral sangat penting diterapkan dalam sendi
kehidupan. Kenyataan yang ada pada masyarakat seperti di atas, dengan penerapan
pendidikan moral sejak dini pada anak, maka lambat laun itu akan bisa segera
hilang. Saat ini pun semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa pendidikan itu
bukan sekedar bagaimana cara mendapatkan nilai yang bagus. Namun pendidikan
adalah sebuah media untuk mencetak manusia yang benar-benar berakal, berbudi
luhur dan tentunya berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar